Betulin Default Program Win7

hmm.. . bingung mo mulai darimana, langsung aja ya...

Kasusnya temen ane menggunakan windows 7, setelah update adobe acrobat reader tiba-tiba semua icon berubah menjadi icon adobe reader.
Dan semua file default programnya berubah menjadi Adobe Reader, di otak-atik control panel, default program, open with... same kepala ngebul, tetep aja ngga bisa..

Nah, akhirnya setelah silaturahmi sama mbah Google, ketemu deh ’registry fixed’ bwt balikin default program...

Yang ngerasa punya kasus serupa, ato ada teman dengan kasus yang sama, silahkan di donlot disini : http://www.indowebster.com/exefix_vista_7.html

yang ga ngerti, yang bingung dengan tulisan ini, ya salah sendiri kenapa dibaca.. :p
Posted in Tips. 0 Comment »


Euweuh Gunana Kekebutan

Kadang sok aneh ningali jelema ayeuna, di jalan raya anu sakitu macetna meuni asa di sirkuit balap. Teuing maksudna naon kekebutan di jalan, nyiar-nyiar picilakaeun.

Padahal lamun dipikir-pikir euweuh manpaatna kekebutan,

HIJI, moal aya anu muji
Saha anu hayang muji jelema anu kekebutan di jalan raya?, malahan mah pada nyarekan. Puguh lamun di sirkuit balap mah dipuji teh, da ari di jalan raya mah ngador pi omongeun.

DUA, moal aya nu mere duit.
Digaji henteu, dibere duit hanteu, bahkan lamun ti kusruk mah kudu ngaluarkeun duit.

TILU, didoakeun goreng
Tah ieu anu ngaranna ’meledos teu karasa’ teh. Teu hujan teu angin, ujug2 beunang musibah, beunang bala, atawa gering.. eta teh boa teuing kusabab kekebutan di jalan, terus aya jelema anu ngarasa didzolimi.. der weh di doakeun goreng.

OPAT... pikiran weh olangan.... :p
Posted in Lainnya. 0 Comment »

Nasehat Dan Semangkuk Bubur Kacang…

Udara Bandung pagi ini tidak seperti biasanya, mungkin karena semalaman langit di Kota Kembang memuntahkan butiran-butiran air yang dua hari sebelumnya menggantung menjadi awan. Jaket tebal, celana jeans dan sarung tangan tidak bisa menahan hembusan udara dingin yang menusuk-nusuk sampai ke tulang. Priyanto kawanku, karena dibonceng pastinya tidak sedingin aku yang memegang kendali motor.

“Mas, terkadang aku frustasi juga. Udah berkali-kali do’a, koq sepertinya Alloh tidak mengabulkan” Pri, mengawali pembicaraan.

“Ah, mungkin kamu do’anya aja asal-asalan” sekenaku sembari menatap jalanan yang masih belum ramai.

“Asal-asalan gimana mas, wong aku do’a tiap hari tapi kayaknya tanda-tanda dikabulkan pun ngga ada”

Mataku sesekali melirik kanan kiri mencari warung penjual bubur kacang, “Pagi yang dingin gini, enak juga sembari makan bubur kacang yang masih panas” Pikirku.

“Pri, makan bubur kacang dulu yu. Simpang depan kalo ga salah ada bubur kacang”

Di persimpangan, motor kupinggirkan di sebuah warung kecil bertuliskan Bubur Kacang Hijau dan Ketan Hitam khas Madura.

“Bubur kacang dua mas, yang satu ngga usah pake ketan hitam” kataku kepada penjual bubur kacang.

“Kamu gimana ?, komplit? Ato ngga pake kacang ijonya?” candaku sama si Pri.

“Komplit aja mas”

Sreeet.., kursi plastik hijau muda ku tarik dari bawah meja, helm, dan tas gendong hitam disimpan di kursi sebelahnya yang masih kosong. Dan Pri duduk berhadap-hadapan denganku.

“Jadi Pri, ulama katakan dalam do’a itu ada 5 hal jaminan dari Alloh” kataku, sambil menunggu bubur kacang disiapkan.

“Yang pertama, ketika seseorang berdo’a maka Alloh kabulkan do’anya dengan cepat. Cash !.

“Ya gitulah, meminta kepada Alloh, terus Alloh kabulkan langsung permintaannya”

“Kedua, seseorang berdo’a kepada Alloh. Tetep Alloh kabulkan do’anya, tapi tidak langsung. Jadi dikabulkannya lamaaa… ga tau berapa lama, bisa bulanan, bisa tahunan, bisa belasan tahun. Tapi yang pasti Alloh kabulkan do’anya”

“Bahkan dalam pengajian hari kamis waktu lalu, ustadznya menyampaikan kisah tentang Nabi Musa dan Harun. Ketika mereka berdo’a kepada Alloh minta diturunkan azab untuk Fir’aun, kata beliau do’anya Nabi Musa itu diperkenankan Alloh, tapi kejadian turunnya azab itu setelah kurang lebih 40 tahun kemudian”.

“Nabi Ibrahim sendiri ketika berdo’a meminta agar diturunkan Rosul untuk berdakwah, yang mengajak agar orang-orang jahiliyah taat kepada Alloh. Itu dikabulkannya bukan 40-50 tahun tapi berabad-abad kemudian, yaitu diutusnya Rosululloh SAW”

Pri masih menyimak kata-kataku ketika pesanan bubur kacang dihidangkan ke atas meja.

“Ini buburnya pak”

“oh, ya. Makasih Mas” nampak asap mengepul dari bubur kacang yang masih panas.

“Terus yang ketiga apa Mas ?” kata Pri, sembari mengambil roti tawar dari dalam kaleng kerupuk berwarna biru tua.

“Nah, yang ketiga seseorang berdo’a meminta suatu hal kepada Alloh, tapi keinginannya tidak dikabulkan, dan Alloh ganti dengan hal lain yang tidak dimintanya.”

“Waktu bulan Ramadhan kemarin pas kultum shubuh, ustadznya bertanya kepada para mustami ‘pernahkah kita meminta badan yang sehat?, mata yang sehat?, anak-istri dalam keadaan sehat, atau yang lainnya?’ ‘kita tidak memintanya tapi Alloh berikan kesehatan badan, diberikan mata yang sehat, anak atau isteri sehat, Nah.. hal-hal semacam itu mungkin saja jawaban dari do’a kita yang tidak Alloh kabulkan

“Kalo kita baca tentang kisah Imran, Isterinya menginginkan anak laki-laki yang lahir dari rahimnya, tapi Alloh ternyata memberikan anak perempuan yaitu Maryam”

“Dari Maryam inilah lahir Nabi Isa a.s, sehingga dalam Al-Qur’an maupun kisah-kisah tentang para Nabi, diceritakan bagaimana tentang hidupnya Nabi Isa, mukzizatnya, dakwahnya, dan Beliau termasuk dalam nabi Ulul Azmi”.

“Coba kamu bayangkan Pri, kalau Alloh kabulkan keinginan isterinya Imran? Diberikannya anak laki-laki. Mungkin Nabi Isa tidak akan pernah ada, dan ceritanya tidak akan sehebat yang kita dengar sekarang”

Ckiiit, ckiiit…. Terdengar motor berhenti di pinggir warung, suara berdecit seperti itu biasanya kanvas motor yang sudah mulai tipis. Tapi, aku tidak begitu memperhatikan siapa yang datang, sama halnya Pri yang asik menenggelamkan serpihan-serpihan roti tawar kedalam bubur kacang.

“Itu baru tiga Pri, yang keempatnya jika do’a tidak dikabulkan maka Alloh akan mengganti do’a yang diminta dengan diselamatkan dari musibah atau bencana.”

“Wuih, kalo kita renungkan baik-baik, tidak dikabulkannya do’a seseorang terus digantikannya dengan diselamatkan dari sebuah bencana, itu adalah karunia yang sangat besar!”.

“Gini Pri, misalkan ada seseorang nih yang berdo’a minta motor. Terus Alloh kabulkan do’anya, tapi beberapa waktu kemudian komplek perumahan tempat dia tinggal kebakaran, dan dia tidak selamat dari musibah tersebut.”

“Kira-kira gimana Pri ?, hasilnya tuh motor hasil dia berdo’a kepada Alloh hangus terbakar, dan rumah hasil dia berikhtiar tanpa do’a pun ikut ludes ditelan api, belum lagi harta benda atau mungkin anak- isterinya juga ikut terkena musibah”.

“Tapi kalau do’anya tidak dikabul, dan diganti dengan diselamatkan dari musibah tersebut, yang ngga didapat mungkin hanya motor saja, Namun harta benda yang lain, dan anak-isterinya ikut selamat”.

Sejenak Priyanto hanya terdiam mendengarkanku, entahlah mungkin ada kejadian yang sedikit nyambung dengan ceritaku tadi, atau malah ngga mengerti dari apa yang kuceritakan.

Tidak terasa juga, satu mangkok penuh bubur kacang tiga perempatnya sudah berpindah kedalam perutku. Dingin yang menyelimutiku dari semenjak berangkat, sekarang sudah mulai menghangat.

“Bener juga Mas, aku inget sebelum mudik kemarin. Sehari sebelum mudik aku kan udah pesan mobil Rental. Rencananya pengen malem takbiran itu dah ada di kampung.”

“Janjiannya mereka mau jemput aku sekitar jam 6 pagi, di deket Gramedia. Tapi ku tunggu sampe jam 7 gak muncul-muncul.”

“Coba di telpon, kata mereka satu jam lagi. Nunggu lagi tuh! bahkan sampe jam 10 siang. Ternyata ga datang juga jemputannya.”

“Nah..pas ditelpon lagi, mereka bilang mobil tersebut dah dibooking duluan. Dan sekarang sedang dipake. Beuh…kebayang ga dongkolnya ? Nungguin lama-lama, belum lagi barang bawaan banyak. Eeh.. malah dibatalin sepihak!”

“Terus, kamu gimana?, komplen sama pihak Rental ?” kataku.

“Iya lah, komplen. Cuma dipikir-pikir ga ada gunanya marah-marah, lagian mobil juga dah dipake, pastinya juga ngga akan datang meski dimarahin juga. Ya.. terpaksa cari rental lain, mayan sulit juga, kebanyakan dah di booking.

“Alhamdulillah dapet juga, walaupun agak sedikit maksa sama tukang rentalnya. Tapi mobil rental itu cuman bisa dipake berangkat besok siangnya.”
“Dan benerlah, besoknya aku baru ngeh, dan syukur karena ga jadi berangkat. Dapat kabar sih mobil travel tersebut malam harinya terguling di tanjakan Nagreg. Sopir meninggal, dan ada 2 penumpang yang koma.” Pri melanjutkan ceritanya.

“Masya Alloh, memang segala sesuatu itu sudah Alloh atur”, sembari menghabiskan sisa segelas air putih ditangan kananku.

“Terus, kemarin kan lebarannya mundur satu hari?, berarti tetep aja kan dapet malem takbiran di kampung?”, kataku sedikit menebak karena prinsip si Pri ini lebarannya ikut sama keputusan pemerintah saja, ngga ikut-ikutan sama organisasi. Kata orang sih dia agak sedikit idealis.

“hehe…. Iya mas, ada untungnya juga lebaran kemarin mundur. Jadi biarpun mudiknya mundur, tetep aja dapet takbiran di kampung”

“Ya begitulah Pri, segala kejadian yang Alloh kehendaki pasti ada hikmah dibalik itu. Meskipun terkadang awalnya pahit untuk menerima kejadian tersebut.”

“Satu lagi nih Pri, hal yang kelima tentang do’a tadi. Yaitu Alloh tidak mengabulkan di dunia, tapi Alloh menggantinya dengan pahala di Akherat.”

“Bicara pahala diakherat ini, orang-orang yang ketika didunia setiap do’anya selalu dikabulkan, nanti diakherat bakalan menyesal ketika melihat pahala-pahala yang diberikan kepada orang-orang yang do’anya tidak dikabulkan didunia.”

“Bahkan kata ‘alim ulama, mereka akan iri dan berkata ‘Jika aku tahu pahalanya seperti ini, maka aku ingin do’a-do’aku didunia tidak dikabulkan!”, aku melanjutkan pembicaraan, sebenarnya itu pun kudapat waktu pengajian hari kamis di Mesjid Agung.

“Wah, Mas ini memang banyak sekali ilmunya. Sekarang ngga akan berhenti berdo’a deh. Banyak-banyak do’a, biarpun ngga dikabulkan, tapi di akherat ntar jadi banyak pahala…. hehehe.”

“Ah, pinter juga kamu ini Pri. Tapi tetep kalo berdo’a kudu yakin Alloh akan mengabulkan do’a kita”

“Ayo, dah hampir jam tujuh nih. Ntar kesiangan lagi” …

Pri dan aku beranjak pergi ketika mentari mulai menarik selimut dinginnya, dan jalanan nampak berkilauan dari pantulan cahaya matahari pagi yang membentur jalanan yang masih basah.




Posted in Nasihat. 0 Comment »

Di Penghujung Gerbang

Ketika sinar mentari sudah meraba jendela kamar Rudi, tersentak dia terbangun dari tidurnya. Ya, Rudi seorang pemuda yang rajin beribadah, setelah semalaman dia shalat tahajjud sampai menjelang shubuh mungkin karena sisa-sisa lelah dihari kemarin bolak-balik Bandung-Subang jadinya beres shubuh berjamaah di mesjid langsung balik ke rumah dan tidur lagi.

"Astagfirullah". katanya tersentak kaget, ketika menyadari matahari sudah mengintip dari balik celah-celah gorden jendela kamarnya.

Wuzz, selimut tebal berwarna biru itu langsung disingkirkan. Kombinasi antara kaget, bercampur dengan lemes dan ngantuk mengantarnya ke kamar mandi. Diambilnya sikat gigi dibalik box cermin, pelan-pelan ditempelkannya pasta gigi ke atas sikat gigi bertekstur lembut dan bersilang. Sembari nyengir disikat dengan sedikit terburu-buru giginya yang gingsul putih berseri.

Dalam hati dia bergumam, "Ah, aku masih fresh karena bekas air wudhu tadi shubuh. Hari ini mandi paginya di qodo aja ntar sore.." sembari nyengir-nyengir sendiri.

Ditengoknya jam di kamar, "waduh 37 menit lagi nih..". Langsung dibuka lemari, secepat kilat baju merah bata dan celana hitam di lemari sudah menempel di badan. Sret, sret, sret... Sepatu, Jaket juga Tas kecil tertempel otomatis seperti Optimus Prime dalam film Transformer.

Tanpa sempat memakai kaos tangan hitam penghalang dingin yang cuman satu-satunya, langsung saja Rudi tancap gas menuju tempat kerjanya yang berjarak kurang lebih 15 km.

Sedang asik berkonsentrasi, bermain dengan kecepatan, mengontrol tarikan gas dan injakan rem. Tiba-tiba Jessss.... motornya mati, berhenti diperjalanan..

"Waduh, kenapa lagi ni motor". agak mengumpat dalam benaknya.

Sedikit emosi, Rudi mendorong motornya ke pinggir jalan. Coba di starter, tidak kunjung menyala. Pedal motor di selah pun masih belum ada tanda-tanda kehidupan. Mo dibuka businya, gak bisa karena ga bawa peralatan.

Setelah ngotak-ngatik tanpa pasti, begitu dia coba cek tanki bensin rupanya bensin sudah habis kering kerontang, maklum indikator bensinnya sudah rusak, jadinya ga bisa ketahuan kalo bensin habis ato ngga.

"wiih.. lupa, harusnya kemarin itu waktu buat isi bensin".

Memang biasanya Rudi selalu isi bensin 3 hari sekali, dan hari itu jatuh pada hari kemarin. Lanjutlah Rudi mendorong motornya menuju pom bensin terdekat, sembari tengok kanan-kiri repot juga mencari bensin eceran di jalanan kota besar.

Ah.. rupanya 15 menit perjuangan Rudi mencari POM bensin membuahkan hasil, di dorong dua kali melewati lampu merah dari pertigaan belok kiri sudah ada SPBU besar dan para pegawainya yang tersenyum ramah.

"Berapa pak ?" Kata perempuan operator POM bensin sembari tersenyum.
"Dua liter Pertamax, mba !" Rudi menimpali.
"Dari angka Nol ya Pak", lanjut operator tersebut, seperti kalimat jampi-jampi ketika mengisikan bensin ke dalam tangki.

Tidak dalam hitungan menit, tangki motor warisan ayahnya sudah terisi bensin.
"Oh ya, sekalian minta BON-nya" Sembari Rudi menyodorkan dua lembar uang pecahan sepuluh ribu rupiah.
"Oke, terima kasih ya pak". Bon dan kembalian uang bensin diserahkan kepada RUdi.

Dilihatnya jam digital dari HP tua yang disimpan disakunya, rupanya waktu beberapa menit lagi.
"beuh... kalo gini bisa-bisa kesiangan", tanpa ba bi bu... langsung RUdi menyalakan motornya..

Wuzz, wuzz, wuzz.. Rudi bermanufer dengan lincah seperti Valentino Rossi di sirkuit balap. Seperti biasa, jiwa pembalap Rudi muncul ketika waktu sudah mepet.

"Cekiiiiiiiiiiiittt..." Rem diinjak, dan motor pun berhenti tepat di Gerbang Kampus tempat dia bekerja..
Sedikit bengong, dia menatap Gerbang tertutup rapat dengan kunci gembok besar yang menggantung ditengahnya.

Tersadar, rupanya hari itu adalah Hari Libur... Rudi tersenyum tanpa jelas untuk apa dia tersenyum.

Posted in Lainnya. 2 Comment »

Aneh.. Aneh.. Aneh..

Aneh,
Malu ketika berpapasan dengan non muhrim, tapi tidak malu untuk ngobrol, chatting sambil browsing dibalik sekat-sekat warnet.

Aneh,
Malu ketika wajahnya ditatap non muhrim, tapi tidak ada rasa malu ketika foto-fotonya yang sedang ’aksi’, ’demo’ dengan dalih ’berjuang’, di putar dalam seminar.

Aneh,
Malu jika wajahnya dilihat non muhrim, tapi tidak ada rasa malu ketika foto-foto ’aksi’ dan berjuangnya di pampang diatas pamflet.

Aneh,
Malu ketika menatap non muhrim, tapi tidak malu ketika melihat gambar-gambar non muhrim di tv, tidak terbesit rasa malu ketika mata tertuju pada pajangan foto-foto non muhrim di internet.

Aneh,
Malu jika melihat secara langsung non muhrim yang berada di balik hijab, tapi hilang rasa malu ketika melihat non muhrim yang sedang berorasi, atau ’beraksi’ di atas mimbar..

Aneh.. Aneh.. Aneh..

Sama dalam kata ’melihat
sama dalam kata ’memandang
Sama dalam kata ’menatap
sama dalam kata ’non muhrim’

Tapi berbeda dalam rasa malu...